18 Juli 2026 · Lapangan Videls Arena RW 18

Dibaca 9 kali

Lailatul Ijtima NU Tarumajaya Digelar di Videl’s Arena, Gus Ulil Dorong Warga NU Jadi Entrepreneur

Ditulis oleh Ibnu Gozali

BEKASI —Videls.my.id Suasana religius sekaligus penuh semangat kebangsaan terasa di Videl’s Arena, Fasum RW 018 Perum Villa Mutiara Gading, Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Sabtu malam, 18 Juli 2026. Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), para kiai, ustaz, pengurus organisasi, serta masyarakat Nahdliyin berkumpul dalam kegiatan Lailatul Ijtima MWC NU Tarumajaya di Ranting NU Setia Asih.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB tersebut tidak hanya dihadiri warga NU. Sejumlah tamu undangan dari kalangan Muhammadiyah, Ustadz Ahmad Zainuri, M.Pd. juga turut hadir. Kehadiran lintas organisasi Islam itu memberikan warna tersendiri bagi kegiatan yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan.

Acara diawali dengan istighotsah yang dipimpin Rois Syuriah NU Ranting Setia Asih, KH. Najmuddin, S.Ag., M.Pd., kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua Tanfidziyah MWC NU Tarumajaya Ustadz Adibussholeh, S.Pd., Rois Syuriah MWC NU Tarumajaya KH. Ahmad Lahmudin, S.Ag., Ketua Tanfidziyah NU Ranting Setia Asih Ustadz Rahmat Sanan, S.Ag., Rois Syuriah NU Ranting Setia Asih KH. Najmuddin, S.Ag., M.Pd., serta A’wan Syuriah NU Ranting Setia Asih yang sekaligus menjadi tuan rumah, Ir. H. Sugiyanto.

Sejumlah tokoh masyarakat juga tampak hadir, di antaranya Ketua RW 018 Perum Villa Mutiara Gading Giyato, Ketua Forum Lingkungan Perum Villa Mutiara Gading sekaligus Wakil Ketua Ranting H. Yusuf Roekma Syafii, Ketua panitia lokal Otong Sumpeno, Kepala Desa Setia Asih Dede Firmansyah, serta perwakilan dari Polsek Tarumajaya.

Dari jajaran NU Kabupaten Bekasi turut hadir Rois Syuriah PCNU Kabupaten Bekasi KH. Musthofa Thorfi, S.H.I. dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Bekasi KH. Enjuk Marjuki, S.H.I., M.H.I.

Gus Ulil: NU Harus Siap Mengikuti Perkembangan Zaman

Salah satu bagian yang menarik perhatian jamaah adalah penyampaian KH. Ulil Abshar Abdalla, M.A. atau Gus Ulil, yang hadir sebagai salah satu penceramah dalam Lailatul Ijtima tersebut.

Gus Ulil menyoroti pentingnya warga NU untuk tidak hanya kuat dalam bidang keagamaan dan sosial, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan zaman, termasuk dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan.

Menurut Gus Ulil, warga NU harus memiliki keberanian untuk masuk dan berkembang di berbagai bidang usaha. Perubahan zaman menuntut masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran sebagai pelaku.

Dalam konteks tersebut, Gus Ulil menyinggung langkah yang selama ini telah dilakukan lebih dahulu oleh warga dan organisasi Muhammadiyah dalam mengembangkan berbagai bidang usaha dan kemandirian ekonomi.

Kehadiran tamu dari Muhammadiyah pada malam itu pun menjadi menarik, karena pesan yang disampaikan Gus Ulil bukan dalam suasana persaingan, melainkan sebagai sebuah refleksi dan dorongan agar warga NU juga semakin berani membangun kemandirian ekonomi.

“Kita harus siap mengikuti perkembangan zaman,” demikian salah satu pokok pesan Gus Ulil kepada jamaah.

Menurutnya, menjadi bagian dari NU tidak berarti harus tertinggal dalam menghadapi perubahan. Nilai-nilai keislaman dan tradisi ke-NU-an justru harus dapat berjalan beriringan dengan kemampuan membaca peluang dan perubahan zaman.

Menyinggung Halal Fair di Bangkok

Gus Ulil juga menyampaikan hal yang menurutnya cukup menggelitik. Ia mengungkapkan rencana dirinya menghadiri Halal Fair di Bangkok.

Hal tersebut kemudian menjadi bahan refleksi mengenai posisi Indonesia di tengah perkembangan industri halal dunia.

Gus Ulil mempertanyakan mengapa kegiatan semacam Halal Fair justru lebih dahulu berkembang di Bangkok, sementara Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi kritik dan tantangan bagi umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU, agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk halal, tetapi juga mampu menjadi produsen, pengusaha dan pemain utama dalam industri halal.

Bagi Gus Ulil, potensi umat Islam Indonesia sangat besar. Karena itu, peluang ekonomi yang muncul dari perkembangan industri halal seharusnya dapat dimanfaatkan dengan lebih serius.

Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika disampaikan di tengah masyarakat NU yang selama ini dikenal kuat dalam tradisi keagamaan dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Lailatul Ijtima Menjadi Ruang Silaturahmi

Selain ceramah, kegiatan Lailatul Ijtima juga menjadi ruang bertemunya para pengurus NU, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai latar belakang.

Rangkaian acara diisi dengan sambutan Ketua Tanfidziyah NU Ranting Setia Asih Ustadz Rahmat Sanan, S.Pd., sambutan Ketua Tanfidziyah MWC NU Tarumajaya Ustadz Adibus Sholikh, S.Pd., serta sambutan tuan rumah H. Yusuf Roekma Syafii.

Kehadiran masyarakat dalam jumlah yang cukup banyak menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan seperti Lailatul Ijtima masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan warga.

Lebih dari sekadar pengajian, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara pengurus NU, masyarakat, tokoh agama, dan unsur pemerintahan setempat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah, yang membuat suasana Videl’s Arena semakin hangat. Para jamaah dan tamu undangan berbaur dalam suasana santai setelah mengikuti rangkaian acara sejak malam hari.

Lailatul Ijtima di Videl’s Arena akhirnya tidak hanya meninggalkan pesan tentang pentingnya memperkuat tradisi dan silaturahmi, tetapi juga membawa sebuah gagasan yang lebih luas: warga NU harus mampu menjaga akar tradisinya sekaligus berani melangkah menghadapi masa depan—termasuk menjadi entrepreneur dan mengambil peran dalam perkembangan ekonomi umat.