16 Agustus 2026 · Lapangan Videls Arena RW 18
Dibaca 1 kaliTasyakuran Warga RW 018 HUT RI KE 81 di Videls Arena
Ditulis oleh Ibnu Gozali
Bekasi - Videls.my.id. # Malam Tirakatan RW 018 di Videl’s Arena, Wayang Kulit Jadi Media Menyampaikan Pesan Kemerdekaan
Bekasi — Minggu malam, 16 Agustus 2026, Lapangan Videl’s Arena di Perumahan Villa Mutiara Gading 1, Seria Asih, Tarumajaya, Bekasi Utara, dipenuhi warga RW 018 yang datang untuk mengikuti Malam Tirakatan atau Tasyakuran dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak selepas Isya, warga mulai berdatangan dan berkumpul di Lapangan Videl’s Arena. Malam itu bukan sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga untuk bersama-sama mengikuti tasyakuran sekaligus mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Malam Tirakatan atau Tasyakuran tersebut berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian perayaan HUT RI ke-81 yang disiapkan panitia RW 018. Selain Malam Tirakatan, rangkaian kegiatan lainnya meliputi upacara bendera, lomba lingkungan, serta malam puncak kreativitas dan pentas seni.
Dibuka Ketua RW 018
Acara diawali dengan pembukaan oleh Ketua RW 018, Giyato. Setelah pembukaan, suasana malam tasyakuran semakin hidup dengan hadirnya pertunjukan seni budaya tradisional berupa wayang kulit.
Pertunjukan tersebut menghadirkan Ki Bambang Asmoro, S.Sn., M.M. sebagai dalang. Kehadiran wayang kulit memberikan warna tersendiri dalam peringatan kemerdekaan di lingkungan RW 018.
Di tengah suasana perayaan HUT RI, wayang kulit tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan atau hiburan. Lakon dan dialog yang disampaikan menjadi sarana untuk mengajak warga kembali memahami arti sebuah kemerdekaan.
Melalui cerita dan dialog yang disampaikan dalam bahasa Jawa, serta sesekali menggunakan bahasa Indonesia, Ki Bambang Asmoro menyampaikan pesan tentang perjuangan, nasionalisme, serta tanggung jawab generasi penerus bangsa.
Pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan masyarakat karena disampaikan melalui kesenian tradisional yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.
Kemerdekaan Bukan Akhir Perjuangan
Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam pertunjukan tersebut adalah bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.
Para pahlawan telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, generasi yang hidup setelah kemerdekaan memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika disampaikan dalam suasana Malam Tirakatan. Warga tidak hanya diajak untuk menikmati suasana perayaan, tetapi juga diajak mengingat kembali perjalanan panjang bangsa Indonesia dan jasa para pahlawan.
Melalui wayang kulit, nilai-nilai perjuangan masa lalu dipertemukan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Kesenian tradisional menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan hal-hal positif, menjaga persatuan, membangun lingkungan, serta mempererat hubungan antarsesama warga.
Dari Videl’s Arena untuk RW 018
Malam Tasyakuran di Videl’s Arena akhirnya menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di RW 018 Villa Mutiara Gading 1.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu harus diwujudkan dalam kemeriahan. Ada pula ruang untuk berhenti sejenak, berkumpul, mengenang jasa para pahlawan, dan mensyukuri kemerdekaan yang telah diwariskan kepada generasi saat ini.
Di Lapangan Videl’s Arena, pada malam 16 Agustus 2026, warga RW 018 hadir bersama dalam sebuah tasyakuran. Diiringi pertunjukan wayang kulit dan pesan-pesan tentang perjuangan, malam itu menjadi pengingat bahwa setelah kemerdekaan diraih, masih ada tugas yang harus dilanjutkan: menjaga persatuan, merawat lingkungan, mempererat persaudaraan, dan mengisi kemerdekaan dengan karya serta kegiatan yang bermanfaat.
Malam Tirakatan pun menjadi bagian dari cerita HUT RI ke-81 di RW 018—sebuah perayaan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga berusaha menjaga ingatan tentang perjuangan dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Bekasi — Minggu malam, 16 Agustus 2026, Lapangan Videl’s Arena di Perumahan Villa Mutiara Gading 1, Seria Asih, Tarumajaya, Bekasi Utara, dipenuhi warga RW 018 yang datang untuk mengikuti Malam Tirakatan atau Tasyakuran dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak selepas Isya, warga mulai berdatangan dan berkumpul di Lapangan Videl’s Arena. Malam itu bukan sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga untuk bersama-sama mengikuti tasyakuran sekaligus mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Malam Tirakatan atau Tasyakuran tersebut berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian perayaan HUT RI ke-81 yang disiapkan panitia RW 018. Selain Malam Tirakatan, rangkaian kegiatan lainnya meliputi upacara bendera, lomba lingkungan, serta malam puncak kreativitas dan pentas seni.
Dibuka Ketua RW 018
Acara diawali dengan pembukaan oleh Ketua RW 018, Giyato. Setelah pembukaan, suasana malam tasyakuran semakin hidup dengan hadirnya pertunjukan seni budaya tradisional berupa wayang kulit.
Pertunjukan tersebut menghadirkan Ki Bambang Asmoro, S.Sn., M.M. sebagai dalang. Kehadiran wayang kulit memberikan warna tersendiri dalam peringatan kemerdekaan di lingkungan RW 018.
Di tengah suasana perayaan HUT RI, wayang kulit tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan atau hiburan. Lakon dan dialog yang disampaikan menjadi sarana untuk mengajak warga kembali memahami arti sebuah kemerdekaan.
Melalui cerita dan dialog yang disampaikan dalam bahasa Jawa, serta sesekali menggunakan bahasa Indonesia, Ki Bambang Asmoro menyampaikan pesan tentang perjuangan, nasionalisme, serta tanggung jawab generasi penerus bangsa.
Pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan masyarakat karena disampaikan melalui kesenian tradisional yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.
Kemerdekaan Bukan Akhir Perjuangan
Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam pertunjukan tersebut adalah bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.
Para pahlawan telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, generasi yang hidup setelah kemerdekaan memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika disampaikan dalam suasana Malam Tirakatan. Warga tidak hanya diajak untuk menikmati suasana perayaan, tetapi juga diajak mengingat kembali perjalanan panjang bangsa Indonesia dan jasa para pahlawan.
Melalui wayang kulit, nilai-nilai perjuangan masa lalu dipertemukan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Kesenian tradisional menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan hal-hal positif, menjaga persatuan, membangun lingkungan, serta mempererat hubungan antarsesama warga.
Dari Videl’s Arena untuk RW 018
Malam Tasyakuran di Videl’s Arena akhirnya menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di RW 018 Villa Mutiara Gading 1.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu harus diwujudkan dalam kemeriahan. Ada pula ruang untuk berhenti sejenak, berkumpul, mengenang jasa para pahlawan, dan mensyukuri kemerdekaan yang telah diwariskan kepada generasi saat ini.
Di Lapangan Videl’s Arena, pada malam 16 Agustus 2026, warga RW 018 hadir bersama dalam sebuah tasyakuran. Diiringi pertunjukan wayang kulit dan pesan-pesan tentang perjuangan, malam itu menjadi pengingat bahwa setelah kemerdekaan diraih, masih ada tugas yang harus dilanjutkan: menjaga persatuan, merawat lingkungan, mempererat persaudaraan, dan mengisi kemerdekaan dengan karya serta kegiatan yang bermanfaat.
Malam Tirakatan pun menjadi bagian dari cerita HUT RI ke-81 di RW 018—sebuah perayaan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga berusaha menjaga ingatan tentang perjuangan dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
