Rumah Tangga adalah Tempat Sekolah yang Paling Lama
Ditulis oleh Ustadz Ahmad Zainuri, M.Pd.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan nikmat iman, kesehatan, kesempatan, serta nikmat berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umat beliau yang senantiasa mengikuti jalan kebaikan hingga akhir zaman. Hadirin yang dirahmati Allah, Kalau kita mendengar kata "sekolah", yang terbayang biasanya adalah ruang kelas, guru, buku pelajaran, ujian, lalu pada waktunya seseorang dinyatakan lulus. Namun ada sebuah sekolah yang tidak mengenal istilah lulus. Sekolah itu adalah **rumah tangga**. Di dalam rumah tangga, seorang suami belajar menjadi pemimpin. Seorang istri belajar menjadi pendamping. Anak-anak belajar mengenal kasih sayang, tanggung jawab, kesabaran, sopan santun dan berbagai nilai kehidupan. Menariknya, sekolah ini tidak memiliki batas waktu. Proses belajarnya berlangsung sejak seseorang membangun rumah tangga sampai ajal menjemput. **Rumah Tangga Bukan Tempat Tanpa Masalah** Rumah tangga sering kali dibayangkan sebagai tempat untuk mencari ketenangan. Itu benar. Tetapi ketenangan bukan berarti kehidupan di dalamnya akan selalu berjalan tanpa persoalan. Justru dalam rumah tangga kita belajar menghadapi perbedaan karakter, kebiasaan, cara berpikir, persoalan ekonomi, pekerjaan, pendidikan anak dan berbagai keadaan yang datang silih berganti. Karena itu, keluarga *sakinah* bukan berarti keluarga yang tidak pernah mempunyai masalah. Keluarga yang *sakinah* adalah keluarga yang mampu menghadapi masalah dengan kepala dingin dan menyelesaikannya bersama. Masalah boleh datang, tetapi jangan sampai setiap masalah berakhir dengan perpisahan. **Pesan Rasulullah ﷺ tentang Istri yang Mulia** Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat indah mengenai sosok istri yang memiliki sifat mulia. Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: **عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:** **«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ، الْوَلُودُ، الْعَؤُودُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا آذَتْ أَوْ أُوذِيَتْ، جَاءَتْ حَتَّى تَأْخُذَ بِيَدِ زَوْجِهَا، ثُمَّ تَقُولُ: وَاللَّهِ لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى»** Latin: *'An 'Abdillahi bin 'Abbasin qaala: Qaala Rasulullahi ﷺ:* *"Alaa ukhbirukum binisaa'ikum min ahlil jannah? Al-waduud, al-waluud, al-'auud 'ala zaujihaa. Allatii idzaa aadzat au uudziyat, jaa'at hatta ta'khudza biyadi zaujihaa, tsumma taquulu: Wallahi laa adzuuqu ghumdzan hatta tardha."* Artinya: *"Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, subur, dan banyak berbakti kepada suaminya. Yang apabila ia menzalimi atau dizalimi, dia datang lalu menggenggam tangan suaminya, kemudian berkata: Demi Allah, aku tidak bisa memejamkan mata sampai engkau ridha kepadaku."* Hadits tersebut diriwayatkan oleh An-Nasa'i no. 251 dalam *As-Sunan Al-Kubra* dan At-Tabrani dalam *Al-Mu'jam Al-Kabir*. **Memahami Makna *Al-Waduud*, *Al-Waluud* dan *Al-'Auud*** Ada tiga sifat yang menarik untuk kita perhatikan dalam hadits tersebut. *Al-waduud* berarti perempuan yang penyayang, penuh kasih dan memiliki kelembutan dalam memperlakukan pasangannya. *Al-waluud* berarti subur atau banyak anak. Sementara *Al-'auud* menggambarkan seseorang yang kembali kepada kebaikan, terus berbuat baik dan berusaha menjaga hubungan dengan suaminya. Pesannya sangat dalam. Ketika terjadi persoalan dalam rumah tangga, yang dicari bukan siapa yang paling menang dalam perdebatan, melainkan bagaimana hubungan itu kembali kepada kebaikan. **Belajar Menjadi Pasangan yang Lebih Baik** Rumah tangga adalah sekolah yang pelajarannya sangat panjang. Tidak ada manusia yang langsung sempurna ketika memasuki pernikahan. Suami masih harus belajar memahami istrinya. Istri pun masih harus belajar memahami suaminya. Karena itu, pernikahan sebenarnya adalah perjalanan dua manusia yang sama-sama belajar. Ada kalanya suami melakukan kesalahan. Ada saatnya istri juga melakukan kekeliruan. Yang menjadi persoalan bukan apakah kesalahan itu pernah terjadi, tetapi bagaimana keduanya menyikapinya. Apakah kesalahan dibalas dengan kesalahan? Apakah kekurangan pasangan terus diungkit? Ataukah keduanya memilih duduk bersama, berbicara dan mencari jalan keluar? Di situlah kedewasaan dalam rumah tangga diuji. **Ibarat Kapal Menghadapi Ombak** Jika kita mengambil perumpamaan dari kehidupan berlayar, kapal yang baik bukanlah kapal yang hanya berlayar ketika laut sedang tenang. Kualitas sebuah kapal dan kemampuan nahkoda justru terlihat ketika ombak mulai tinggi, angin datang dari berbagai arah dan perjalanan menjadi tidak mudah. Nahkoda tidak meninggalkan kapal hanya karena laut sedang bergelombang. Ia harus tetap memegang kendali, membaca arah angin, menentukan haluan dan mencari jalan agar seluruh penumpang dapat sampai ke tujuan dengan selamat. **Begitu pula dengan rumah tangga.** Dalam perjalanan kehidupan, pasti ada "ombak". Kadang berupa persoalan ekonomi, perbedaan pendapat, pekerjaan, hubungan dengan keluarga besar, pendidikan anak atau persoalan lainnya. Suami dan istri harus menjadi satu tim dalam menghadapi gelombang tersebut. Bukan saling menyalahkan, melainkan bersama-sama mencari jalan keluar. **Mengganti Pasangan Bukan Jalan Keluar dari Semua Masalah** Ada sebuah pemikiran yang perlu kita luruskan. Kalau seseorang menganggap bahwa rumah tangga akan menjadi mulus dengan mengganti pasangan setiap kali muncul masalah, sebenarnya ia sedang mengambil kesimpulan yang terlalu pendek. Pertanyaannya sederhana: setelah pasangan diganti, apakah masalah pasti selesai? Belum tentu. Sebab selama kita hidup bersama manusia, perbedaan akan selalu ada. Setiap manusia memiliki karakter, kebiasaan, kekurangan dan cara berpikir masing-masing. Bahkan kalau seseorang berharap mendapatkan pasangan yang sama sekali tidak pernah membuat kesalahan, itu merupakan sesuatu yang hampir mustahil. Kalau ingin mencari pasangan yang tidak pernah salah, barangkali yang dicari bukan lagi manusia. Tetapi apakah mungkin mengganti pasangan dengan malaikat? Tentu tidak. Maka yang harus dibangun bukan kebiasaan menghindari masalah, melainkan kemampuan menyelesaikan masalah. **Suami Memberikan Ketenangan, Istri Memberikan Penghormatan** Rumah tangga membutuhkan peran kedua belah pihak. Seorang istri hendaknya menghormati dan memuliakan suaminya. Sementara seorang suami memiliki tanggung jawab untuk memberikan ketenangan, perlindungan, perhatian dan rasa aman kepada istrinya. Jangan hanya sibuk menghitung apa yang sudah diberikan pasangan kepada kita. Sesekali hitung pula apa yang sudah kita berikan kepada pasangan. Jangan hanya bertanya, "Mengapa pasangan saya tidak memahami saya?" Cobalah bertanya kepada diri sendiri, "Sudahkah saya berusaha memahami pasangan saya?" Pertanyaan sederhana seperti itu bisa menjadi pintu untuk memperbaiki hubungan. **Menjaga Rumah Tangga dengan Sakinah, Mawaddah, Warahmah** Tujuan berumah tangga bukan sekadar memiliki tempat tinggal dan hidup bersama. Lebih dari itu, rumah diharapkan menjadi tempat kembali ketika kehidupan di luar terasa berat. Di dalamnya ada ketenangan, kasih sayang dan rasa saling menjaga. Itulah yang kemudian kita kenal dengan istilah **سَكِينَةٌ، مَوَدَّةٌ، وَرَحْمَةٌ** — *sakinah, mawaddah, warahmah*. *Sakinah* berarti ketenangan. *Mawaddah* berkaitan dengan cinta dan kasih sayang. Sedangkan *rahmah* adalah kasih sayang yang melahirkan kepedulian dan keinginan untuk menjaga. Maka keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah diterpa masalah. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang ketika badai datang, suami dan istri tetap berada di kapal yang sama. Mereka mungkin berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan rasa hormat. Mereka mungkin kecewa, tetapi tidak mudah menyerah. Mereka mungkin menghadapi persoalan, tetapi tetap mencari jalan keluar bersama. Pada akhirnya, rumah tangga memang merupakan sekolah yang paling lama. Di dalamnya kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, tanggung jawab dan kasih sayang. Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada pula istri yang sempurna. Yang ada adalah dua manusia yang sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga keluarga kita, melembutkan hati para suami dan istri, memberikan kesabaran dalam menghadapi setiap persoalan, serta menjadikan rumah tangga kita sebagai keluarga yang penuh ketenangan, cinta dan kasih sayang. **اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا سَكِينَةً، وَاجْعَلْ فِيهَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا.** Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang *sakinah, mawaddah, warahmah*, serta senantiasa berada dalam lindungan dan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta'ala. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ **أَكْتُفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ** والسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ